Jumat, 11 Oktober 2013

kurikulum pendidikan



Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum
A.kajian teori
a.Pengertian Filsafat
Istilah Filsafat adalah terjemahan dari bahasa inggris “phylosophy” yang berasal dari perpaduan dua kata yunani purba “philien” yang berarti cinta (love), dan “ sophia” (wisdom) yang berarti kebijaksanaan atau love of wisdom (redja mudyahardjo, 2001:83). Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). Dua dari lima filsafat yang di kemukakan  titus menunjukkan pengertian di atas : “physhophy is a method of reflective thinking and reasoned inquiry;....phylosophy is a group of theories or system of thought” (kurniasih dan tatang syaripudin, 2007:73). Dengan kaitannya dengan definisi filsafat sebagai proses, socrates (dalam syaripudin 2007) mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
b.manfaat filsafat pendidikan
filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan  permasalahan pendidikan. Dengan demikian, filsafat  manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan yaitu
1.      Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan  dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan dinsekolah? Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara.
2.      Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Manusia yang bagaimanakah yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu?
3.      Filsafat dan tujuan pendidikan memeberikan kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan
4.      Tujuan pendidikan memungkinkan  si pendidik menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai.
5.      Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.

c.Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Pandangan-pandangan Filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan, terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa. Untuk itu harus ada kejelasan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat memengaruhi tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Sedangkan  tujuan pendidikan sendiri  pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensip mengenai apa yang seharusnya dicapai.
Tujuan pendidikan memuat pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta  didik selaras dengan sistem nilai dan falsafah yang dianutnya. Dengan demikian, sistem nialai atau filsafah yang dianut oleh suatu komunitas akan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkannya. Dengan kata lain, filsafah suatu negara tidak bisa dipungkiri akan memengaruhi tujuan pendidikan di negara tersebut. Olah karena itu, tujuan pendidikan disuatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sebagai implikasi  dari adanya perbedaan filsafah yang dianutnya.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan, terdapat beberapa pendapat yang dijadiakan kaji banding sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan. Herbert Spencer (nasution, 1982) mengungkapkan lima kajian sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan, yaitu;
1.      Self –preservation , yaitu individu harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan sehat, mencegah penyakit, dan hidup secara teratur.
2.      Securing the necessities of life, yaitu individu harus sanggup mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dengan melakukan suatu pekerjaan.
3.      Rearing of family, yaitu individu harus mampu menjadi ibu atau bapak yang sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya.
4.      Maintaining proper social and political relationship, artinya setiap individu adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat negara.
5.      Enjoying leisure time, yaitu individu harus sanggup memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan  dan menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
The united states office of education (1918) telah mencanangkan tujuan pendidikan melalui “seven cardinal principles”,  yaitu:
1.      Healt, yaitu diwajibkan mempertinggi taraf kesehatan murid-murid.
2.      Command of fundamental processes, yaitu penguasaan kecakapan pokok-pokok yang fundamental seperti; menulis, membaca, dan berhitung.
3.      Worty home membership, yaitu mendidik anak-anak menjadi anggota keluarga yang berharga, sehingga berguna bagi masyarakat.
4.      Vocation efficiency, yaitu efisiensi dalam pekerjaan sehingga dalam waktu yang singkat dapat mencapai hasil yang banyak dan memuaskan.
5.      Citizenchip, yaitu usaha mengembangkan bangsa menjadi warga yang baik.
6.      Worty use of leisure, yaitu memanfaatkan waktu  senggang dengan baik yang senantiasa bertambah panjang berhubung dengan dengan industrialisasi yang lebih sempurna.
7.      Satisfaction of religious needs, yaitu pemusan kehidupan keagamaan
Tujuan pendidikan nasional indonesia bersumber pada pandangan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yaitu pancasila. Nilai-nilai filsafat pancasila yang dianut bangsa indonesia  dicerminkan dalam rumus tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU No. 20  tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar negara republik indonesia tahun 1945. 

d.kurikulum dan filsafat pendidikan
kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau  pandangan hidup suatu bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.
Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan pemilihan dan penggunaan dan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik / peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa indonesia, yaitu pancasila.
Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya  dalam pengembangan kurikulum di indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan tetapi hendaknya dipertimbangkan dan dakaji kesesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hidup bangsa indonesia, karena tidak sesuai konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan kita.

e.aliran-aliran filsafat pendidikan
pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir. Kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya menjawab permasalahan-permasalahan sekitar;
1.      Bagaimana seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan
2.      Isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang seharusnya disajikan     kepada siswa.
3.      Metode pendidikan apa yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan,
4.      Bagaimana peranan yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik
Menurut Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya, dan pendidikan di indonesia pada khususnya, yaitu:
1-dealisme
a.Konsep-Konsep Filsafat
v Metafisika (hakekat realitas)  yang bersifat rohani atau spiritual
v Humanologi (hakikat manusia)  jiwa yang dikaruniai kemampuan berpikir dan rasional
v Epistermologi (hakikat pengetahuan) orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang, sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat.
v Aksiologi (hakikat nilai) hakikat ini bersifat absolut/mutlak
b.Konsep-Konsep Pendidikan
v Tujuan Pendidikan : formal, informal
v Isi pendidikan: pengembangan kemampuan berpikir  melelui pendidikan liberal atau pendidikan umum.
v Metode pendidikan:disusun oleh metode dialektik/diologik
v Peranan peserta didik dan pendidik: peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya
2.       Realisme
a.Konsep-Konsep Filsafat
v  Metafisika (hakikat realitas): realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat fisik atau materi.
v  Humanologi (hakikat manusia): hakikat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan
v  Epistemologi (hakikat pengetahuan): pengetahuan diperoleh melalui pengindraan dengan menggunakan pikiran
v  Aksiologi (hakikat nilai):  tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam yang diperoleh melalui ilmu.
b.konsep-konsep pendidikan              
v  Tujuan pendidikan: dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial.
v  Isi pendidikan:isi pendidikan adalah kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan berguna baagi pebyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial.
v  Metode pendidikan didasarkan pada  pengalaman langsung maupun tidak langsung.
v  Peranan peserta didik dan pendidik:dalam hubungannya dalam pembelajaran. Peranan pesserta didik adalah menguasai pengetahuan yang dapat berubah-ubah.

Pragmatisme
a.Konsep-Konsep Filsafat
v  Metafisika (hakikat realitas): suatu teori umum tentang kenyataan tidak mungkin dan tidak perlu.
v  Humanologi (hakikat manusia): manusia adalah hasil evolusi bilologis, psikologis dan sosial.
v  Epistemologi (hakikat pengetahuan): pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang.
v  Aksiologi(hakikat nilai): ukuran tingkah laku perorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman-pengalaman hidup.
b.konsep-konsep pendidikan
v  Tujuaan pendidikan:tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman untuk memeahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan masyarakat.
v  Isi pendidikan :kurikulum dan pengalaman yang telah teruji serta minat-minat dan kebutuhan-kebuutuhan anak dan pnendidikan liberal menghlangkan pemisahan antara pendidikan umum dengan pendidikan praktis/vokassional.
v  Metode pendidikan: berfikir reflektif atau metode pemecahan masalah merupakan metode utamanya.
v  Peranan peserta didik dan pendidik peserta didik adalah sebuah organisme yang rumit yang mampu  tumbuh.peranan pendidik adalah mengawasi dan membimbing pengalaman blajar tampa terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta didik.

B.pembahasan
Dalam hal ini ada 4 landasan pokok dalam pengembangan kurikulum yaitu:
v  landasan filosofis
v  landasan psikologi
v  landasan sosiologis
v  dan landasan pengetahuan dan teknologi
Disini kami membahas tentang landasan filosofi dan kurikulum pendidikan.
Menurut saya kurikulum adalah pedoman, petunjuk, atau kompas arah bagi pendidik dan yang dididik untuk mengetahui sampai mana kemampuan mereka. Kurikulum sangat berguna bagi dunia pendidikan sedangakan kalau di dunia lainnya  kurikulum itu sama dengan  targetan perharinya.
Landasan merupakan dasar atau pedoman. filosofi / filsafat merupakan cinta kebijakan, bisa dikatakan orang yang menghargai pendapat orang lain. filsafat merupakan teori-teori yang pertama kali ditemukan yang dipercaya dan masih digunakan sampai sekarang, kebanyakan teori tersebut sudah teruji dan terbukti kebenarannya. Tapi, banyak juga teori yang tidak dipercaya lagi bahkan banyak pro dan kontra dengan adanya teori-teori baru yang muncul begitu cepatnya.
Dengan berkembangnya zaman maka semakin berkembang juga pemikiran-pemikiran yang lebih luar biasanya lagi. Akan tetapi zaman sekaraang kebanyakan hanya bisa berpendapat dan tidak bisa membuktikannya. Makanya teori yang lama masih tetap dipercaya sampai sekarang.
Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik, dengan kalimat lain  idealisme lebih bersifat pemikiran-pemikiran, yang bisa berupa imajinasi.
Realisme berasal dari kata real yang artinya nyata, idelisme dan realisme saling berkaitan, dimana setelah pemikiran itu muncul barulah kita bisa mengaplikasikannya ke lapangan ke dunia nyata yang sebenarnya.
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. setelah relisme maka kita harus pragmatisme, bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan dalam realisme, serta mempunyai bukti kebenarannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa  dari ketiga pemikiran filsafat tersebut sangat berkaitan, dapat dikatakna filsafat itu tanpa salah satu dari tiga tersebut belum bisa dikatakan filsafat yang teruji, terbukti dan terpercaya.

Daftar pustaka
Kurikulum dan pembelajaran / tim pengembang MKDP kurikulum pembelajaran-Ed.3-2.-jakarta: Rajawalipers,2012.



1 komentar:

  1. tulisan sudah bagus namun, perhatikan kaidah penulisan daftar pustaka tidak seperti itu, opini Litensi sendiri tidak terlihat disini, masih mencoba hanya sekedar menyampaikan namun tidak dibahas oleh Litensi, lanjutkan dan silahkan perbaiki untuk menuju tulisan yang semakin baik.

    BalasHapus